Cerita Perjalanan Berhijab - IHSD 2020
Cerita Perjalanan Berhijab - IHSD 2020


Cerita Perjuangan Berhijab


Oleh : Zulfa Khoerunisa



 


Ceritaku tentang perjalan dan perjuangan dalam berhijab tak akan lepas dari perjuangan seorang ayah yang begitu sangat hebat beserta pasukannya yang begitu menjaga saudarinya ini, ya, merekalah saudara-saudara lelakiku. Aku adalah satu-satunya anak perempuan dari lima bersaudara. Para lelaki hebat itu lahir dari seorang ibu yang sangat kuat karena ketulusannya, sehingga Allah Subhanahu wata’ala memberi ia kekuatan.


Masa kecilku diwarnai dengan banyak kenangan. Ayah adalah seorang lelaki yang begitu dekat dengan anak perempuannya dan beliau suka mengajakku mengaji. Suatu ketika ayah akan pergi untuk mengaji, namun aku tak diajaknya, saat itulah aku menangis.


Sedari kecil aku sudah terbiasa memakai kerudung (khimar). Hingga usiaku memasuki masa Sekolah Dasar yang pada waktu itu hijab masih asing di lingkungan sekolah. Tapi kedua orang tuaku selalu memasangkan khimar kepadaku. Sampai aku naik kelas, ibu membelikanku kain seragam untuk dijahit, agar aku bisa memakai seragam dengan lengan panjang dan rok yang menjuntai sampai mata kaki. Hingga waktu itu, karena seragam batik diadakan langsung dari sekolah dan semuanya berlengan pendek, ibuku rela mencari dan membeli seragam batik yang sama namun dengan lengan panjang dan rok yang menjuntai sampai mata kaki.


Aku berasal dari keluarga yang sederhana namun Alhamdulillah selalu berkecukupan. Suatu ketika aku disuruh untuk membeli kerupuk, aku pergi untuk membeli dan berlari pergi ke warung tanpa memakai khimar, dan dimarahilah aku oleh ayah dan kakakku. Beruntungnya aku mempunyai para lelaki hebat itu. Ketika kecil aku sangat senang memakai gaun dan pakaian yang sedang trend pada masa itu, namun ayahku tak pernah membelikannya. Hingga usiaku mulai memasuki usia remaja, ayah membelikanku sebuah gamis dari uang hasil jerih payahnya, seingatku itulah gamis pertamaku dan aku sangat senang memakainya.


Ketika aku memasuki masa remaja, ayah selalu menjadi benteng yang menjagaku, dan saudara-saudaraku yang menjadi tamengnya. Aku masih ingat penjagaan seorang ayah kepada anak perempuanya, waktu itu aku memakai celana jeans sampai keluar dari pintu rumah, lalu ayahku yang berada disampingku menegur dan menanyakan apakah tak punya lagi pakaian sehingga aku memakai pakaian seperti itu?. Saat itulah aku merasa sangat bersalah. Maafkan aku ayah telah membuatmu kecewa. Sampai saat ini aku selalu ingat nasihatnya, jangan memakai celana jeans. Seiring berjalannya waktu, aku mulai memahami bahwa memakai pakaian yang ketat akan berdampak buruk pada kondisi kesehatan tubuh.


Awal masuk sekolah menengah atas, aku sangat berharap menjadi seorang yang sangat populer di sekolah. Sehingga berbagai cara aku lakukan untuk mengejar popularitas tersebut, yaitu dengan mengikuti pendaftran sebagai pengurus OSIS dan berbagai organisasi di sekolah. Waktu itu aku beranikan diri untuk menyapa teman-temanku yang juga mendaftar kepengurusan OSIS, ternyata banyak dari mereka yang ikut sebuah organisasi bernama Remaja Masjid (RISMA). Sehingga aku juga semakin tergerak untuk bergabung dengan organisasi tersebut. Memang ketika waktu demo ektrakurikuler, organisasi RISMA membuat aku takjub dengan hapalan Al-Qur’an seorang kakak yang sampai saat ini ketika aku mengingat wajah dan namanya, aku langsung mengingat kondisi hapalan Al-Qur’anku sekarang.


Kehidupan masa awal SMA membuat aku ingin tampil berbeda dengan menggunakan kerudung segiempat yang kainnya menerawang. Namun, Maha Baik-Nya Allah, Ia hadirkan seorang guru yang begitu perhatian terhadap murid perempuannya agar memakai kerudung yang tebal dan tidak menerawang, memakai rok panjang, dan pakaian yang tidak ketat. Timbullah sebuah budaya disekolahku pada beberapa kelompok organisasi untuk memakai kerudung yang tebal dan tidak menerawang. Saat pertama kali memakainya, aku merasa tidak nyaman namun lama kelamaaan merasa nyaman juga. Ditambah lingkungan yang sangat mendukungku, lagi-lagi Allah Subhanahu Wata’ala menghadirkan orang-orang shalih di sekitarku, merekalah Murabiyyahku. Melihat mereka berpakaian rapi dan menutup aurat dengan sempurna membuat aku tergerak ingin seperti mereka.


Perjalanku di SMA diwarnai dengan banyak cerita, dengan oase yang menyejukkan jiwa, mengembara mencari bekal ilmu, dan melingkar dengan kekuatan cinta kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Disitulah aku menemukan kebersamaan dalam ukhuwah Islamiyyah. Berawal dari sebuah lingkaran, kami berkumpul, saling memberi nasihat, saling menanggung beban, saling mendoakan, saling merangkul dan mempunyai tujuan yang sama untuk meraih ridha Allah Subhanahu Wata’ala. Aku ingat ketika itu kami sama-sama berdoa dan bershalawat dengan kucuran air mata yang membasahi pipi dibarengi air hujan yang turun dari langit. Kesejukan itu selalu kami rasakan di sore hari setiap hari jum’at.


Hari jum’at adalah waktu yang selalu aku tunggu-tunggu, itulah waktu untukku mencari kesejukan dan membersihkan hati. Aku sulit untuk menangis, namun ketika berkumpul dengan orang-orang yang shalihah, mata ini mudah sekali meneteskan air mata.


Suatu ketika, empat tahun yang lalu, seperti biasanya kami melingkar di teras masjid sekolah. Tiba-tiba hujan turun dan membuat kami harus pindah ke dalam masjid. Disaat hujan turun dengan derasnya, kakakku datang dan aku merasa heran kenapa ia menjemputku pada waktu hujan deras seperti itu. Lalu ia menyampaikan bahwa ayah telah tiada. Ya, ayahku telah meninggal disaat aku kelas sebelas. Aku tak percaya, namun mata ini tak bisa berbohong, seketika aku menangis dan teman-temanku menanyakan ada apa, lalu kujelaskan, namun air mataku malah semakin deras.


Aku pulang dengan derasnya air hujan dibarengi air mata yang terus mengalir. Sesampainya dirumah, ternyata sudah banyak orang yang berada dirumahku, segera kuganti pakaian dan membawa Al-Qur’an. Kulihat tubuh ayahku telah terbaring kaku, dan kulihat ibuku disamping ayah terlihat kesedihan dimatanya. Namun, ia tetap terlihat kuat. Lalu ibu menyuruhku untuk ikut memandikan ayah. Aku seorang anak perempuan satu-satunya merasa malu, namun kuusap kaki ayahku, kulihat wajahnya yang tenang dan kini tak akan lagi kudengar nasihat darinya.


Banyak orang takziyah ke rumahku, termasuk para Murabiyyahku, mereka datang memberikan pelukan layaknya kasih sayang seorang kakak terhadap adiknya, mereka memberikan kehangatan, nasihat dan harapan. Ya, sekarang kuingat harapan itu, harapan menjadi lebih baik dari sebelumnya, memiliki hapalan yang mutqin, sehingga bisa memasang mahkota dari cahaya-Nya kepada kedua orang tuaku. Semoga aku bisa bersama lagi dengan ayah di Syurga-Nya kelak, juga ibu, kakak, adik, murabi-murabiyyahku, guru, sahabat dan orang-orang shalih. Aamiin Yaa Rabba’aalamiin.


Dari perjalanan dan perjuangan itulah, aku belajar istiqamah menjadi muslimah yang taat untuk menutup aurat dengan sempurna. Karena aku tak ingin menyeret ayah dan saudara-saudaraku masuk ke dalam neraka. Mereka telah berjuang untuk menjagaku. Maka aku juga harus berjuang untuk menjaga mereka juga ibuku. (Editor: LNA)


KONTAK

  • https://www.instagram.com/ldkrm.unigal/
  • https://web.facebook.com/ldkrm.unigal.7
  • https://www.youtube.com/channel/UCtREDahXLODDvqz48phcO-A
  • https://twitter.com/ldkrm_unigal

LOKASI UNIGAL

DIKELOLA OLEH

Admin
Lembaga Dakwah Kampus Raudlatul Muttaqin Universitas Galuh

2021 © Lembaga Dakwah Kampus Raudlatul Muttaqin Universitas Galuh