Love Yourself
Love Yourself



Love Yourself

Teruntuk saudariku, Kuharap ceritaku bisa memberi ketenangan pada setiap kecemasan yang kau miliki. Kuharap kau mengerti, bahwa boleh jadi kau membenci sesuatu, padahal itu sangat baik untukmu. Kuharap kau menyadari, bahwa kau memegang kendali penuh atas dirimu sendiri. Kuharap dengan ceritaku, kalian bisa menaikkan kembali dagu kalian, agar mahkota yang dipakai tidak jatuh lalu pecah. Angkat dagumu, saudariku. Tetaplah berdiri. Perempuan yang mampu bangkit dari keterpurukannya, itu perempuan kuat, itu keren. Dan kuharap kalian menyadari, bahwa kalian memang pantas.


Penuh Cinta,


Wanita cantik menurut versinya


**


 “Kenapa kakaknya putih tapi adiknya hitam ya ?”


“Kamu item jadi ga pantes kutekan”


“Alismu transparan, ya”


“Bulu mata kamu hemat, ya”


“Aduh, kok jerawatnya banyak banget, rawat dong itu muka, kasian


Kurang lebih seperti  itulah ucapan orang-orang terhadapku. Kalimat yang dengan begitu ringannya terlontar dari mulut-mulut mereka. Mungkin sebagian dari kalian ada yang pernah merasakannya, atau malah sebagian yang lainnya tanpa sadar pernah mengucapkannya.


Aku paham, mungkin mereka tidak bermaksud untuk melukai hati. Tidak serius, "hanya candaan". Kucoba menerimanya, tapi tidak dapat dipungkiri, bahwa itu sangat melukai hati.


Mengapa aku tidak mendapatkan apa yang aku inginkan? Mengapa aku seperti ini?


Aku ingin cantik juga. Kulit putih, tubuh langsing, tinggi, mata lebar, bibir merekah, senyum menawan, dan semua kriteria yang ada pada wanita cantik di luar sana.


Aku mulai membenci diriku sendiri, mulai merasa bahwa aku tidak pantas untuk siapapun, bahkan aku tidak pantas untuk diriku sendiri. Aku merasa ada dititik terendah. Belasan produk perawatan wajah aku coba agar jerawatku hilang, derasnya keringat yang ku keluarkan  agar berat badanku bisa turun, dan usaha lain yang kulakukan agar aku berhenti mendengar kalimat “candaan” mereka.


Setiap bangun pagi, yang kulakukan pertama kali adalah melihat bayanganku di cermin. Melihat apakah usahaku membuahkan hasil atau tidak. Dan ternyata tidak, aku menyalahkan tubuhku sendiri karena tidak mau mengikuti apa yang kumau. Perlahan tapi pasti, aku mulai kehilangan. Aku kehilangan kendali atas diriku sendiri, dan aku tidak mengenali siapa diriku. Yang kulihat hanya kejelekan dan keburukan.


Ah!, andai bisa kugambarkan betapa menyedihkannya aku.


Suatu hari, aku mendatangi sebuah tempat makan. Disana aku melihat seorang perempuan sedang makan. Betapa cantik dia. Kulit putih bersih, bibir merah merona, mata hitam, dan bulu mata panjang. Perasaan iri mulai menguasaiku.


Hingga Allah menunjukkan sesuatu kepadaku.


“neng cantik, minta nomer nya atuh. Eh jangan sombongUcap seorang pria yang menghampiri perempuan itu sambil menaruh lengannya di pundak si perempuan, sepertinya mereka tidak saling kenal. Yang jelas perempuan itu terlihat sangat risih.


Perasaan iri tiba-tiba  surut, amarah mereda, dan yang ingin kulakukan saat itu hanya ingin menangis mengucap syukur pada Allah. Ternyata Allah hanya ingin melindungiku. Firman Allah terngiang di kepalaku saat itu.


‘Maka nikmat tuhanmu yang mana lagi yang engkau dustakan ?’


Ya Allah, maafkan aku yang kurang bersyukur.


Sejak saat itu, aku meluangkan secukupnya waktu, meminta maaf atas semuanya. Atas kalimat-kalimat yang kuhujamkan pada diriku. Aku mulai berkenalan kembali, berbincang dengan diriku sendiri. Setelah perbincangan dalam yang kulakukan, aku mulai berdamai dengan fisikku.Aku bersyukur, tubuhku telah melakukan yang terbaik agar tetap berfungsi sebagaimanamestinya. Aku menerima kekuranganku, dan bagaimana caranya agar bisa kumaksimalkan sebaik mungkin untuk kepentingan diriku, agamaku, bahkan dunia akhiratku. Aku bisa hidup berdampingan dengan masa lalu, namun aku tidak bisa hidup di dalam masa lalu. Perlahan tapi pasti, aku mulai kembali berdiri.


Saat ini, aku mencintai diriku lebih dalam dari sebelumnya. Kuhapuskan stereotipe ‘perempuan cantik’, karena aku tetap cantik di mataku sendiri, tak peduli apa yang orang lain katakan. Dan aku menjadi lebih kuat dari sebelumnya. (Ed: Erni)


Profil Penulis

Nama: Qothrun Nada Erawan

Alamat: Batulawang, Banjar

Fakultas & Prodi: FKIP/ Pendidikan Bahasa Inggris


KONTAK

  • https://www.instagram.com/ldkrm.unigal/
  • https://web.facebook.com/ldkrm.unigal.7
  • https://www.youtube.com/channel/UCtREDahXLODDvqz48phcO-A
  • https://twitter.com/ldkrm_unigal

LOKASI UNIGAL

DIKELOLA OLEH

Admin
Lembaga Dakwah Kampus Raudlatul Muttaqin Universitas Galuh

2021 © Lembaga Dakwah Kampus Raudlatul Muttaqin Universitas Galuh